Aku merasakan kepalaku sangat sakit, aku membuka mataku perlahan dan aku melihat wajah yang ramah dan berwibawa, sosok seorang Raja dengan jubah putihnya yang begitu bercahaya.
“Kau sudah sadar?”
“Urgh... Kepalaku... Ini di mana? ZEE! CHEZA!”
Aku langsung duduk dari posisi tidurku saat teringat Zee dan Cheza, saat itu juga aku merasakan sakit yang sangat kuat menjalar dari kepala ke seluruh badanku.
“ARGH!!!”
“Sebaiknya kau tidak terlalu bersemangat seperti itu, istirhatkanlah badanmu sejenak, berpindah dimensi dalam waktu yang singkat itu sangat susah untuk penyihir yang sudah lama menjadi manusia biasa sepertimu.”
Pria itu merebahkan badanku dengan lembut sembil tersenyum, entah kenapa sepertinya orang itu tidak asing, tapi apa maksudnya? Apa dia bercanda? Aku penyihir? Ha,,, ha,,, pasti tadi hanya perasaanku saja dia berkata seperti itu.
“Anda siapa?”
“Aku Nao, Raja Kerajaan Bintang, apa kau tidak ingat?”
Aku menggelengkan kepalaku, dan berwajah bingung, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Apa ini kenyataan?!!!
“Ternyata dampak tinggal di dunia manusia begitu lama bisa membuatmu lupa sebanyak itu ya?”
Tunggu... Nao? Bukankah itu orang yang ada di dalam buku? Apa ini mimpi? Aku masuk ke dalam buku? Hah... Tidak mungkin... Dan lagi, apa maksudnya ‘dampak tinggal terlalu lama di dunia manusia’? Itu aneh... Aku terus memperhatikan sekelilingku, tapi aku tidak bisa melihat Zee dan Cheza di manapun. Tiba-tiba pintu kamar tempatku beristirahat terbuka dengan keras menimbulkan bunyi yang cukup membuat kaget, dan terlihat seseorang seperti ksatria yang begitu gagah berjalan masuk. Dia berlutut dan membungkuk di depan Raja Nao.
“Yang Mulia, dua orang lainnya yang datang bersama dengan Pangeran sudah siuman.”
“Benarkah? Bawalah mereka kemari. Pasti mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya, sebagaimana dia tidak sabar ingin bertemu dengan mereka.”
“Baik Yang Mulia. Tapi sebelum itu mereka harus bertemu dengan anda secara pribadi di Ruang Utama Kerajaan.”
“Ah! Kau benar... Aku hampir saja lupa...”
“Baiklah Yang Mulia, saya permisi dulu.”
“Saga! Tunggu... Bisakah kau tidak usah begitu formal saat menghadapku?”
“Maaf Yang Mulia, tapi saya tidak bisa.”
“Apakah kau bisa melaksanakannya jika itu perintah?”
Pria yang bernama Saga itu terkejut mendengar perkataan Raja Nao, Raja itu hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya, seolah wajahnya pun ikut bertanya. Saga membungkuk dan menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Saya permisi Yang Mulia.”
Pria itu pergi dari ruangan, dan pintu ruangan tertutup setelah pria itu keluar.
“Ah... Saga benar-benar tidak bisa diajak kompromi, padahal aku tidak suka dia memanggilku ‘Yang Mulia’ !“
“Maaf Yang Mulia, tadi Pria itu mengatakan ‘dua orang yang datang bersama dengan Pangeran’... Apa Pangeran baik-baik saja? Dan siapa teman-teman Pangeran itu? Apa saya mengenal mereka? Kenapa mereka bisa tidak sabar bertemu dengan saya?”
“Ah! Kau benar-benar telah lupa banyak hal ya... Aku perintahkan padamu jangan memanggilku YANG MULIA, kau itulah Sang Pangeran, adikku! Yang benar saja, masa adik memanggil kakaknya seperti itu? Ha... Ha...”
“Maaf? Saya Pangeran? Adik anda?”
“Aku rasa kau akan mengingatnya sendiri nanti, Aku malas bercerita panjang lebar padamu. Ah! Kau pasti membawa buku itu kan?”
“Buku?”
“Yup! Karena kau sudah menemukan buku itu makannya kau bisa sampai di sini sekarang.”
Aku teringat buku yang hanya berisi 10 halaman itu, aku mengambilnya dan aku terkejut. Buku itu tidak lusuh lagi namun sangat bersih, sampulnya berwarna putih dan bergambar sebuah istana yang sangat indah.
“Buku itu akan mengembalikan ingatanmu. Dan seharusnya kau sudah ingat semuanya sekarang, apa kau sidah membaca semuanya?”
“Belum...”
“Pantas saja kau masih lupa...”
Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Raja itu, aku menatapnya dengan wajah bingungku, dan dia hanya tertawa geli meresponku.
“Di dalam buku itu tersegel semuanya, rahasia yang tidak boleh sampai diketahui oleh orang-orang kegelapan. Kau sendirilah yang menyegelnya, kau pun menyegel ingatanku yang mengetahui rahasia itu, namun kau harus membukanya kembali karena hal itu malah membuat keadaan semakin kacau.”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Dari tadi kau cuma membicarakan soal ingatanku, aku ini bukan bagian dari kalian! Aku.. Urgh..”
Aku merasakan kepalaku berat sekali, sangat sakit sampai aku tidak mampu membuka mataku. Tiba-tiba sakit itu hilang sekejap, aku melihat Raja mengeluarkan cahaya yang begitu terang dari tongkatnya dan mengarahkannya ke kepalaku. Sakit itu hilang, aku sangat terkejut dan tidak bisa menerima ini semua, tapi aku juga merasa lebih tenang.
“Sudah tenang? Kelihatannya efek segelmu masih ada sampai sekarang ya?”
Wajah Raja terlihat begitu khawatir, dia seolah ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi semua seperti tertahan di dalam mulutnya.
“Terima kasih... Maafkan aku, aku akan berusaha mengingatnya.”
“Tapi kalau itu menyakitkan tidak usah dipaksakan...”
“Umh... Ya...”
“Aku pergi sebentar, setelah kau merasa lebih baik bilang saja pada pengawal yang berjaga di sana, mereka akan segera membawamu ke Ruang Utama Kerajaan. Istirahatlah yang cukup, karena kau masih harus beradaptasi lagi dengan lingkungan di sini.”
“Tunggu! Tadi kau bilang efek menyegel ingatan yang membuatku seperti ini, apa itu akan terus muncul selama aku berusaha mengingat sesuatu?”
“Aku rasa begitu... Dan teman-temanmu sudah bisa mengingat semuanya, hanya tinggal menunggumu.”
“Mereka juga ada di dalam buku itu? Jadi, pangeran yang ada dalam mimpiku itu adalah aku sendiri?”
“Ya... Semua yang kau katakan itu benar.”
Raja menjawabku dengan senyumnya yang ramah, aku hanya belum bisa menerima semua itu di dalam kepalaku, semuanya seperti berputar dalam kepalaku tapi tidak bisa tersambung.
“Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Untuk saat ini tidak...”
“Baiklah kalau begitu, beristirahatlah yang cukup, kau bisa bertanya lagi padaku nanti.”
Raja segera berbalik, berjalan meninggalkan Ruangan, namun langkhnya terhenti tiba-tiba.
“Ah... Hampir aku lupa... Jangan lupa mengganti pakaianmu saat akan bertemu denganku di Ruang Utama, ada banyak di lemari pilihlah salah satu.”
Raja tersenyum dan menunjuk ke arah almari di samping tempat tidurku, aku melihat sejenak ke arah almari itu dan kembali mengerahkan pandanganku padanya. Setelah itu ia segera berbalik dan kembali berjalan untuk meninggalkan ruangan, aku merebahkan dan menutup mataku untuk beristirahat sejenak, berharap kepenatan ini hilang dan semuanya selesai begitu aku terbangun.
* * *
“Kau sudah sadar?”
“Urgh... Kepalaku... Ini di mana? ZEE! CHEZA!”
Aku langsung duduk dari posisi tidurku saat teringat Zee dan Cheza, saat itu juga aku merasakan sakit yang sangat kuat menjalar dari kepala ke seluruh badanku.
“ARGH!!!”
“Sebaiknya kau tidak terlalu bersemangat seperti itu, istirhatkanlah badanmu sejenak, berpindah dimensi dalam waktu yang singkat itu sangat susah untuk penyihir yang sudah lama menjadi manusia biasa sepertimu.”
Pria itu merebahkan badanku dengan lembut sembil tersenyum, entah kenapa sepertinya orang itu tidak asing, tapi apa maksudnya? Apa dia bercanda? Aku penyihir? Ha,,, ha,,, pasti tadi hanya perasaanku saja dia berkata seperti itu.
“Anda siapa?”
“Aku Nao, Raja Kerajaan Bintang, apa kau tidak ingat?”
Aku menggelengkan kepalaku, dan berwajah bingung, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Apa ini kenyataan?!!!
“Ternyata dampak tinggal di dunia manusia begitu lama bisa membuatmu lupa sebanyak itu ya?”
Tunggu... Nao? Bukankah itu orang yang ada di dalam buku? Apa ini mimpi? Aku masuk ke dalam buku? Hah... Tidak mungkin... Dan lagi, apa maksudnya ‘dampak tinggal terlalu lama di dunia manusia’? Itu aneh... Aku terus memperhatikan sekelilingku, tapi aku tidak bisa melihat Zee dan Cheza di manapun. Tiba-tiba pintu kamar tempatku beristirahat terbuka dengan keras menimbulkan bunyi yang cukup membuat kaget, dan terlihat seseorang seperti ksatria yang begitu gagah berjalan masuk. Dia berlutut dan membungkuk di depan Raja Nao.
“Yang Mulia, dua orang lainnya yang datang bersama dengan Pangeran sudah siuman.”
“Benarkah? Bawalah mereka kemari. Pasti mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya, sebagaimana dia tidak sabar ingin bertemu dengan mereka.”
“Baik Yang Mulia. Tapi sebelum itu mereka harus bertemu dengan anda secara pribadi di Ruang Utama Kerajaan.”
“Ah! Kau benar... Aku hampir saja lupa...”
“Baiklah Yang Mulia, saya permisi dulu.”
“Saga! Tunggu... Bisakah kau tidak usah begitu formal saat menghadapku?”
“Maaf Yang Mulia, tapi saya tidak bisa.”
“Apakah kau bisa melaksanakannya jika itu perintah?”
Pria yang bernama Saga itu terkejut mendengar perkataan Raja Nao, Raja itu hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya, seolah wajahnya pun ikut bertanya. Saga membungkuk dan menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Saya permisi Yang Mulia.”
Pria itu pergi dari ruangan, dan pintu ruangan tertutup setelah pria itu keluar.
“Ah... Saga benar-benar tidak bisa diajak kompromi, padahal aku tidak suka dia memanggilku ‘Yang Mulia’ !“
“Maaf Yang Mulia, tadi Pria itu mengatakan ‘dua orang yang datang bersama dengan Pangeran’... Apa Pangeran baik-baik saja? Dan siapa teman-teman Pangeran itu? Apa saya mengenal mereka? Kenapa mereka bisa tidak sabar bertemu dengan saya?”
“Ah! Kau benar-benar telah lupa banyak hal ya... Aku perintahkan padamu jangan memanggilku YANG MULIA, kau itulah Sang Pangeran, adikku! Yang benar saja, masa adik memanggil kakaknya seperti itu? Ha... Ha...”
“Maaf? Saya Pangeran? Adik anda?”
“Aku rasa kau akan mengingatnya sendiri nanti, Aku malas bercerita panjang lebar padamu. Ah! Kau pasti membawa buku itu kan?”
“Buku?”
“Yup! Karena kau sudah menemukan buku itu makannya kau bisa sampai di sini sekarang.”
Aku teringat buku yang hanya berisi 10 halaman itu, aku mengambilnya dan aku terkejut. Buku itu tidak lusuh lagi namun sangat bersih, sampulnya berwarna putih dan bergambar sebuah istana yang sangat indah.
“Buku itu akan mengembalikan ingatanmu. Dan seharusnya kau sudah ingat semuanya sekarang, apa kau sidah membaca semuanya?”
“Belum...”
“Pantas saja kau masih lupa...”
Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Raja itu, aku menatapnya dengan wajah bingungku, dan dia hanya tertawa geli meresponku.
“Di dalam buku itu tersegel semuanya, rahasia yang tidak boleh sampai diketahui oleh orang-orang kegelapan. Kau sendirilah yang menyegelnya, kau pun menyegel ingatanku yang mengetahui rahasia itu, namun kau harus membukanya kembali karena hal itu malah membuat keadaan semakin kacau.”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Dari tadi kau cuma membicarakan soal ingatanku, aku ini bukan bagian dari kalian! Aku.. Urgh..”
Aku merasakan kepalaku berat sekali, sangat sakit sampai aku tidak mampu membuka mataku. Tiba-tiba sakit itu hilang sekejap, aku melihat Raja mengeluarkan cahaya yang begitu terang dari tongkatnya dan mengarahkannya ke kepalaku. Sakit itu hilang, aku sangat terkejut dan tidak bisa menerima ini semua, tapi aku juga merasa lebih tenang.
“Sudah tenang? Kelihatannya efek segelmu masih ada sampai sekarang ya?”
Wajah Raja terlihat begitu khawatir, dia seolah ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi semua seperti tertahan di dalam mulutnya.
“Terima kasih... Maafkan aku, aku akan berusaha mengingatnya.”
“Tapi kalau itu menyakitkan tidak usah dipaksakan...”
“Umh... Ya...”
“Aku pergi sebentar, setelah kau merasa lebih baik bilang saja pada pengawal yang berjaga di sana, mereka akan segera membawamu ke Ruang Utama Kerajaan. Istirahatlah yang cukup, karena kau masih harus beradaptasi lagi dengan lingkungan di sini.”
“Tunggu! Tadi kau bilang efek menyegel ingatan yang membuatku seperti ini, apa itu akan terus muncul selama aku berusaha mengingat sesuatu?”
“Aku rasa begitu... Dan teman-temanmu sudah bisa mengingat semuanya, hanya tinggal menunggumu.”
“Mereka juga ada di dalam buku itu? Jadi, pangeran yang ada dalam mimpiku itu adalah aku sendiri?”
“Ya... Semua yang kau katakan itu benar.”
Raja menjawabku dengan senyumnya yang ramah, aku hanya belum bisa menerima semua itu di dalam kepalaku, semuanya seperti berputar dalam kepalaku tapi tidak bisa tersambung.
“Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Untuk saat ini tidak...”
“Baiklah kalau begitu, beristirahatlah yang cukup, kau bisa bertanya lagi padaku nanti.”
Raja segera berbalik, berjalan meninggalkan Ruangan, namun langkhnya terhenti tiba-tiba.
“Ah... Hampir aku lupa... Jangan lupa mengganti pakaianmu saat akan bertemu denganku di Ruang Utama, ada banyak di lemari pilihlah salah satu.”
Raja tersenyum dan menunjuk ke arah almari di samping tempat tidurku, aku melihat sejenak ke arah almari itu dan kembali mengerahkan pandanganku padanya. Setelah itu ia segera berbalik dan kembali berjalan untuk meninggalkan ruangan, aku merebahkan dan menutup mataku untuk beristirahat sejenak, berharap kepenatan ini hilang dan semuanya selesai begitu aku terbangun.
* * *
No comments:
Post a Comment