“Apakah benar tidak apa-apa jika aku membuka kembali pintu yang menghubungkan dunia di sini dengan dunia anda Yang Mulia?”
Aku dapat mendengar suara seseorang, yang dari nada bicaranya terdengar sangat khawatir.
“Tidak masalah, ini demi keselamatan Pangeran.”
Kesadaranku belum sepenuhnya pulih, namun samar-samar aku dapat melihat sosok Sang Raja yang sedang berkomunikasi dengan seseorang yang ada di dimensi lain, namun wajah orang itu tidak begitu jelas terlihat. Dan aku dapat merasakan seseorang menopang tubuhku, itu adalah Saga, Penasehat Raja.
“Tapi Yang Mulia, bagaimana dengan anda?”
“Aku bisa menjaga Kerajaan ini, apa kau meragukan kekuatanku?”
“Maafkan kelancangan saya Yang Mulia.”
Orang asing itu membungkukkan badannya, dengan perasaan sangat menyesal telah mengucapkan hal itu, namun dari gerak-geriknya juga terlihat perasaan khawatir.
“Tenang... Kau terlihat begitu khawatir... Ha.. Ha... Kau masih saja lemah dalam hal menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya...”
Raja tersenyum kecil, pria dari dimensi lain itu menatap ke arahku. Aku merasakan diriku yang lain yang ada di mimpi itu ingin bergerak dan menolak perintah dari Sang Raja, namun aku tidak dapat menggerakkan badanku, seolah badanku dirantai dengan sangat kuat.
“Saya akan berusaha untuk mengatasinya, tapi saya tidak bisa kalau tidak mengkhawatirkan Yang Mulia.”
“Kalau begitu berhentilah memanggilku Yang Mulia, Hiroto... Kita adalah kawan lama kan? Kau sama saja seperti Saga.”
Raja tersenyum sebentar, kemudian melihat ke arahku dan ke arah Saga. Dia tampak sangat sedih melihat keadaanku, entah apakah karena aku nampak lemah atau karena aku memang menyedihkan. Raja segera mengubah air mukanya menjadi serius dan dengan penuh wibawa ia berbicara.
“Aku akan memulai membuka hubungan dengan duniamu, namun kau harus segera menutupnya segera setelah Cheza dan Zee membawa Reo bersama mereka masuk ke lubang dimensi.”
Saat aku mendengar nama Cheza dan Zee diriku yang bukan di mimpi itu tersentak kaget, dan aku melihat sosok dua orang yang kukenal menopangku menggantikan Saga.
“Aku harap kalian menjaganya.”,kata Raja.
“Aku akan menjaganya, bagaimanapun juga dia sahabatku dan dia adalah pangeran kerajaan ini.”, kata Zee.
“Aku bergantung padamu adikku, kau menjaganya dan aku menjaga kakaknya yang keras kepala ini.”
Saga tertawa kecil dan tersenyum bangga memandang Zee, ternyata Saga juga memiliki sifat seperti itu... Sangat mirip dengan Zee. Raja segera membuka portal yang menghubungkan kerajaan dengan dimensi lain itu.
“Segera masuk! Aku tidak bisa berlama-lama membuka hubungan ini! Kalian harus berhati-hati, Reo sudah mengatur agar ingatan kita tentang bagian terpenting dari rahasia itu hilang saat kalian masuk portal ini! Dan akan digantikan dengan ingatan baru! Hiroto akan membantu kalian mendapat tempat tinggal di sana, tanpa orang mengetahui bahwa kalian adalah orang baru!”
“Baik Yang Mulia.”, jawab Cheza.
Zee, Cheza, dan aku memasuki cahaya itu. Segera setelah kami masuk cahaya itu hilang, hanya tinggal Raja Nao dan Saga yang tinggal. Kerajaan seolah penuh dengan perasaan tidak tenang dan keheningan yang mencekam.
Aku terbangun dengan kaget, kepalaku terasa pening, lanjutan mimpi itu sepertinya memberiku sedikit pengertian akan keadaan ini. Aku segera teringat akan buku itu dan segera membukanya, aku membalik-balikkan halamannya. Halaman selanjutnya setelah mimpiku yang pertama masih kosong, tapi aku terus membaliknya dan aku mendapatkan mimpiku yang kedua tertulis di situ juga, beberapa halaman setelah tulisan mimpi yang pertama. Kelihatannya aku mendapat ingatanku kembali secara acak, dan itu tampak aneh menurutku, seolah-olah itu disengaja dan ada sesuatu yang tersembunyi sehingga aku harus mendapatkannya secara acak.
ARGH!!!
Aku tak mau ambil pusing, nanti juga aku akan tahu ada apa dibalik semua ini! Aku teringat kata Raja Nao, maksudku kakakku, tentang Ruang Utama Kerajaan. Aku rasa aku harus segera menuju ke sana, jadi aku mengambil pakaian dari almari yang tadi dia tunjukkan. Saat kubuka almarinya, isinya penuh dengan baju-baju yang tidak wajar, maksudku baju-baju yang memang wajar di lingkungan kerajaan dan tidak wajar di lingkungan duniaku sebelumnya. Saat aku memilah-milah, aku melihat pakaian yang dipakai pangeran, maksudku yang kupakai, saat dikejar-kejar oleh sekumpulan Uncontrolled, jadi aku memutuskan menggunakan itu. Tanpa banyak bicara aku langsung pergi ke Ruangan Utama, yang anehnya meskipun aku tidak tahu kerajaan ini tapi seolah-olah tubuhku tahu, dan aku membiarkan instingku menuntunku ke sana.
* * *
Ternyata keputusanku tidak salah, aku benar-benar berhasil sampai di Ruang Utama. Saat aku hendak masuk, aku baru sadar bahwa ada pengawal di sana yang menjaga pintu, karena mereka membungkuk saat aku lewat, tadinya kupikir itu patung. Aku terdiam sebentar dan memperhatikan pengawal-pengawal itu, mereka benar-benar hebat, tidak bergeming sedikitpun. Kurasa mereka lebih cocok disebut sebagai patung daripada pengawal. Aku langsung membuka pintu itu dan mendapati kakakku sedang minum teh dan makan beberapa makanan kecil bersama Cheza, tapi Zee Nampak berdiri di samping Saga. Pemandangan yang aneh, apakah mereka sangat menghormati kakak sampai seperti itu?
“Ah! Kau sudah sadar Re!”
“Reo!”
Cheza tampak sangat senang dan langsung berlari ke arahku dan dia memelukku! Aku kaget dan... sebenarnya senang dalam waktu yang bersamaan. Aku melihat ke arah Zee dan anehnya, dia tampak biasa saja, itu aneh...
“Kau tidak apa-apa kan?”, kata Cheza.
“Ah... Tidak... Aku hanya... Capek dan shock mungkin... Mungkin...”
Cheza langsung menarikku untuk duduk di meja makan dan bergabung bersama kakakku.
“Zee, mengapa kau dan kakakmu tidak duduk disini bersama-sama kami?”
Zee kaget, namun hanya diam. ANEH!!! Nao tertawa kecil dan dia membalas ucapanku.
“Mereka benar-benar mirip dan kita benar-benar mirip... Ha... Ha... Reo, mereka akan tetap pada pendirian mereka berapa kalipun kau memaksa mereka bergabung...”
Aku merasa hal itu aneh... Membiarkan sahabatmu berdiri melihatmu makan saat kau makan... Bukankah ia lebih tampak seperti pelayan daripada sahabat? Apakah diriku yang dulu terbiasa seperti ini? Aku merasa sangat tidak terbiasa!
”Ya sudah, terserahlah, tapi apa kau tahu Zee, kau tampak seperti pelayan dan bukan sahabatku.”
Muka Zee memerah, dan aku rasa dia berusaha menahannya. Aku senang melihat itu! Akan kupanas-panasi sampai dia berbicara!!!
“Apa kau benar-benar Zee yang aku kenal, kau seperti pengecut!”
Aku tertawa puas dalam hati, kurasa Zee sudah tidak tahan dan dia akhirnya berbicara.
“Anda terlalu kekanak-kanakan Pangeran, sebaiknya anda habiskan makanan anda atau itu akan menjadi dingin dan tidak bisa dimakan.”
Perkataannya membuatku ternganga... ITU BUKAN ZEE!!! Dia aneh!!! Cheza tertawa kecil, dan lebih buruk lagi Zee memasang tampang sok dewasa dan bijaksananya!!! Kakakku tertawa keras, meskipun sebenarnya biasa saja karena ruangannya sangat besar namun hanya berisi sedikit sekali orang. Itu memalukan! Aku memutuskan untuk diam dan melahap makananku dengan cepat tanpa banyak bicara. Kakak melihatku dengan tatapan kaget lalu tersenyum kecil sambil makan dengan gaya dan caranya yang berwibawa dan sopan. Cheza tampak kaget dan sepertinya agak cemas melihat reaksiku. Namun ia tetap melanjutkan melahap makanannya.
“Aku mau ke perpustakaan.”
Aku segera berdiri dan berjalan dengan gaya yang mungkin bisa dibilang sedikit keren, aku memutuskan untuk mempelajari banyak hal yang aku lupakan di perpustakaan, mungkin saja ada banyak petunjuk yang bisa membantuku mengingat sesuatu. Aku melihat Zee melangkah dari tempatnya berdiri tadi dan mengikutiku.
“Kau tidak perlu mengikutiku.”
“Tapi pangeran... Anda masih..”
“Aku tidak apa-apa, dan aku bukan anak kecil!”
Zee menghentikan langkahnya, Cheza lalu bangkit dan menarik tanganku, tentu saja aku kaget.
“Kau tidak apa-apa Re? Apakah kau benar-benar tidak butuh istirahat lebih? Apa kau benar tidak apa-apa pergi sendiri?”
“Aku sudah sehat, aku hanya perlu membiasakan diri dengan keadaan dan lingkungan di sini. Tidak usah kawatir, kau bisa mencariku di perpustakaan kalau ada sesuatu yang ingin kau sampaikan.”
“Baiklah, aku akan menyusulmu setelah kuhabiskan makananku. Dan sebaiknya kau membiarkan Zee pergi bersamamu.”
Aku sedikit kesal dengan kalimat terakhir Cheza, namun aku tidak mau dia cemas jadi aku membiarkan Zee ikut denganku.
“Baiklah, tapi jangan menggangguku.”
“Baik pangeran.”
Aku benar benar merasa sekujur tubuhku merinding mendengar Zee memanggilku pangeran, namun tak ada gunanya menyuruhnya memanggilku seperti biasa karena dia tidak akan mendengarkannya. Sudahlah, kurasa aku yang harus terbiasa dengan keadaan ini.
* * *
“Umh... sejarah... sejarah...”
Aku menelusuri rak-rak buku yang begitu tinggi dan berisi banyak sekali buku... Ini menyusahkan!!! Kenapa sih bukunya harus ada sebanyak ini? Kenapa tidak dibuat databasenya saja seperti di perpustakaan di sekolah... Tapi kan di dunia kerajaan yang seperti sudah beberapa tahun silam ini belum ada computer... Hah... Menyusahkan saja...
“Re!”
“Aaaa!!! Cheza! Kau mengagetkanku!!!”
“Hi,, hi,,, hi...”
Cheza tertawa kecil, sedangkan Zee hanya berdiri diam di belakang Cheza. Entah kenapa aku merasa dia terlalu banyak diam.
“Zee, apa kau bisa melakukannya sekarang?”
“Baik tuan putri.”
Eh? Apa maksud Cheza dengan melakukannya? Apa yang mereka rencanakan?
“Cheza! Zee! Apa yang kalian..”
Cheza hanya tersenyum kecil padaku, kemudian Cheza membuat semacam gerakan dengan tangannya yang membentuk gambar, kemudian Zee mengambil pedangnya dan menghunuskannya ke tengah-tengah gambar tidak terlihat yang dibuat Cheza di udara tadi. Tempat menjadi hening, namun kemudian gambar itu menjadi cahaya dan menarik masuk kami bertiga. Aku menutup mataku karena silau, kemudian saat aku membuka mata aku, Zee, dan Cheza berada dalam sebuah pondok yang sudah sangat tua.
“Tempat apa ini?”
“ Ini hanya pondok biasa yang tidak bisa dilihat orang lain.” Jawab Cheza
“Hah?”
“Kau memang bodoh ya Re! Uah!!! Aku sangat lelah harus berakting seperti itu di depanmu! Menyusahkan!!” ungkap Zee
“Hah? Berakting?”
“Ternyata kau benar-benar belum mengingat banyak ya... Benar-benar seperti yang kau duga ya....” Kata Zee sambil tertawa kecil.
“Maksudmu apa? Aku gak ngerti!!! Kalian ini aneh! Mana mungkin aku bisa mengerti apa yang kalian maksud kalau kalian tidak memberitahuku?!”
“Zee hentikan, itu tidak akan membantunya mengingat sama sekali.” Kata Cheza lembut.
“Baiklah maaf.”
“Baiklah aku rasa kita harus mulai sekarang, artificial creature yang aku ciptakan tidak bisa bertahan terlalu lama, karena masih banyak kekurangan, aku takut mereka akan mengetahui rencana kita.” Kata Cheza dengan wajah yang serius, aku belum pernah melihatnya seserius itu.
“Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Aku merasa menjadi orang paling bodoh dan tidak tahu apa-apa di sini.”
“Biar aku yang jelaskan.” Jawab Zee. Cheza mengangguk menyetujui ucapan Zee tadi.
“Jadi, semua yang terjadi di sini sesuai dengan kalkulasimu. Kau sudah memperkirakan apa yang kira-kira akan terjadi dan kau juga sudah memalsukan beberapa ingatan dari kami semua. Karena itu aku yakin saat ini beberapa hal yang aku ingat bukanlah hal yang sebenarnya terjadi saat sebelum kita pergi dari kerajaan ini.” Ungkap Zee.
“Apa itu juga termasuk kakakku dan kakakmu?”
“Ya... Yang tahu hal yang sebenarnya hanya kamu, dan kamulah kunci dari semuanya. Dan satu hal, kau harus berhati-hati, karena Raja dan kakakku yang sekarang berada dikerajaan ini adalah para middle, yaitu uncontrolled yang memiliki kemampuan meniru korbannya. Hal ini pun tidak menutup kemungkinan bahwa aku ataupun Cheza untuk bisa ditiru oleh mereka.” Ungkap Zee.
“Heh?! Lalu bagaimana aku bisa tahu bahwa yang sekarang ada di depanku adalah kau dan Cheza yang asli?!” Jawabku panik.
“Tenang Re, itulah alasan mengapa aku memilih tempat ini.” Sela Cheza.
“Ya, midlers tidak seperti lowers, mereka tidak bisa mempertahankan penyamaran mereka di tempat asing yang tidak diketahui oleh medium asli yang mereka tiru.” Lanjut Zee.
“Tapi, bukankah kalian mengetahui tempat ini?” Jawabku.
“Tidak, aku hanya mengambil tempat secara random dari semua Lost Area yang ada. Tidak ada yang mengetahui secara pasti tentang Lost Area, bahkan aku yang memiliki kemampuan membuka pintu dimensi pun tidak.” Jawab Cheza.
“Ya, itulah kelemahan midlers, mereka akan kesusahan jika harus meniru para priest.” Zee menjawab sambil tersenyum.
“Tapi mereka cuku hebat, jadi cobalah untuk menahannya sekitar 10 menit di tempat asing itu, karena mereka tidak akan mungkin bertahan lebih dari 10 menit.” Tambah Cheza.
“Baiklah, aku rasa aku harus belajar banyak...”
“Satu hal lagi Re, hanya kau yang tahu kebenarannya, dan saat kau mulai mengingatnya satu per satu, buku itu akan mulai terisi. Kau harus menyimpannya baik-baik, ada kemungkinan mereka sengaja membiarkan kita di sini untuk menunggu buku itu terisi, dan mereka akan mencuri informasi tentang stones of eternity, karena hanya kau yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada batu-batu itu.” Ungkap Zee.
“Zee, kita harus segera kembali, sepertiya Raja sedang menuju perpustakaan!” Seru Cheza panik.
“Baiklah! Re! Tetaplah bersikap seperti sebelum kau tahu bahwa kami sudah ingat semuanya, jangan bertindak mencurigakan.”
“Iya Zee! Aku tahu! Meskipun semuanya ini memusingkan!”
Cheza kembali menggambar dengan jarinya di udara kosong dan Zee menusukkan pedangnya pada gambar tadi, dan cahaya putih pun seperti menelan kami ke dalamnya.
* * *