Monday, March 2, 2009

Chapter 2 ~ Our First Step

Hmmmh…
Aku berbaring di atas tempat tidurku sambil melihat seluruh isi kamarku, menerawang jauh lebih tepatnya. Sebenarnya aku tidak benar-benar sedang memperhatikan isi kamarku. Aku sedang memikirkan Cheza, Zee, dan kesepakatan yang kami buat tadi siang. Kami sepakat malam ini akan pergi ke toko buku Chronicle dan kemudian ke Starbucks. Aku ingin mencari buku bacaan yang unik di toko buku Chronicle yang antik itu, karena kalau di toko buku biasa tidak mungkin ada buku yang unik. Mereka bilang mau menemaniku ke toko buku asalkan aku mentraktir mereka di Starbucks. Mereka benar-benar punya kemampuan untuk memeras kekayaan orang. Tapi tidak apalah, untuk membalas apa yang sudah aku lakukan pada mereka. Setidaknya mereka akan memaafkanku karena merahasiakan sesuatu, meskipun aku tidak bilang pada mereka bahwa aku merahasiakan sesuatu.
 Setelah itu kami akan pergi ke markas, kami berencana memandangi bintang di malam hari dari situ. Markas kami adalah sebuah rumah pohon tua yang ada di tengah-tengah Town’s Field. Rumah pohon itu kami sendiri yang membangunnya saat kami masih kecil. Sebenarnya kami membangun rumah pohon itu karena Cheza sangat ingin punya rumah pohon yang dibangun oleh kami bertiga. Karena aku dan Zee selalu bersaing awalnya kami tidak mau bekerja sama, namun karena ingin membuat Cheza senang maka kami mau bekerja sama. Cheza sangat ingin membantu kami namun kami tidak mengijinkan karena takut dia terluka, tapi dia malah nekat membantu dan akhirnya dia pun jatuh tertimpa balok kayu. Untung saja dia selamat, dan sampai sekarang aku dan Zee masih terus menjaganya, karena dia begitu ceroboh.
 Tok! Tok! Tok!
 “Reo, ada Cheza datang!”
Ibu mengetuk pintu kamarku, itu membuatku tersentak kaget, aku kembali tersadar dari ingatan masa lalu yang beterbangan di dalam kepalaku. Dan entah kenapa tapi, aku sangat senang saat ibu mengatakan bahwa ‘Cheza datang’.
 “Iya bu! Tolong bilang padanya tunggu sebentar!”
Aku segera turun dari tempat tidurku dan memakai pakaianku, kemudian berlari keluar kamar. Aku turun ke ruang tamu dan aku melihat Cheza sedang duduk di sofa sambil mengamati seisi ruang tamu. Aku tersenyum senang, dan segera menghampirinya.
 “Hei, anak kecil! Apa yang kau lakukan di sini?”
Dia menoleh ke arahku terkejut, entah sebenarnya dia terkejut karena kaget atau terkejut karena senang.
 “Reo! Berhentilah mengataiku anak kecil!”
Wajahnya seikit cemberut saat aku mengatainya anak kecil, tapi aku senang.
 “Iya… Iya… Maaf…”
Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya. Dia menundukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum. Kemudian aku duduk di sofa yang ada di depannya, sehingga kami duduk berhadapan. Aku memandanginya dan dia hanya menunduk malu, tiba-tiba raut wajahnya berubah serius, dia menatapku tajam.
 “Reo, apa kau akan marah jika aku bertanya tentang masalahmu?”
Pertanyaan Cheza tiba-tiba langsung mengubah suasana hatiku. Aku merasa tidak nyaman, dan aku terus berusaha menutupi darinya bahwa sebenarnya aku memikirkan sesuatu. Aku tersenyum garing –itu karena terpaksa- setidaknya berusaha agar dia tak tahu apa yang aku pikirkan.
 “Aku sudah bilang kalau aku tidak punya masalah kan?”
 “Umh… Aku ingin percaya, tapi… umh… Aku tahu aku tidak boleh memaksamu… tapi…”
Dia kembali bicara sambil menunduk, Aku bisa melihat bahwa ia begitu cemas. Aku tidak suka suasana ini jadi kali ini aku berusaha memparlihatkan senyum yang penuh semangat supaya ia tidak khawatir lagi.
 “Sudah… Jangan cemas! Aku tidak apa-apa!”
Aku menatapnya, dan dia balas menatapku. Dia seolah akan tersenyum, tapi kemudian memasang wajah cemasnya lagi dan itu membuatku merasa semakin tidak nyaman.
 “Reo, sekarang Zee tidak ada jadi… Umh… Bisakah kau jangan merahasiakan dan coba menutupinya lagi? Bisakah kau mengatakannya padaku?”
 “Cheza… Aku..”
 “Reo, selama ini aku tidak pernah memaksamu untuk mengatakan masalahmu. Tapi kali ini aku mohon kau mau mengatakannya padaku.”
“…”
“Kau tahu, aku tidak bisa tidur dengan tenang karena teringat tatapan matamu yang kosong! Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya…”
Aku tersentak mendengar kata-katanya yang terakhir, aku benar-benar seperti tidak tahan kali ini. Aku bahkan malah membuat Cheza tidak bisa tidur karena ia memikirkan masalahku. Mungkin aku memang harus memberitahunya, tapi itu hanya jika mimpi itu datang lagi malam ini.
“Cheza, aku hanya tidak ingin kau cemas. Aku pikir lebih baik aku menyimpan masalah ini sendiri.”
“Tapi…”
“Begini saja. Aku berjanji, kalau seandainya nanti malam, atau ika nanti tiba-tiba saja masalah itu datang lagi kepadaku aku akan memberitahukan semuanya kepadamu.”
“Kau berjanji?”
“Iya, aku berjanji. Tapi kau juga harus berjanji untuk tidak memberitahukannya pada Zee, kecuali aku sendiri yag memutuskan untuk memberitahunya.”
“Iya! Aku janji! Tapi kenapa kau ingin merahasiakannya dari Zee?”
“Aku hanya tidak ingin melihatnya marah. Kau sudah cukup terbebani dengan mengetahui masalahku, dan kau pasti akan makin terbebani kalau dia marah kan?”
Aku mengalihkan pembicaraan, sebenarnya hanya karena aku tak mau melanjutkannya. Lagian Zee bukan orang yang akan mudah marah karena hal kecil seperti itu, dia hanya menyebalkan seperti seorang kakak yang suka mengerjai adiknya.
“He… He… Kau memang bisa selalu membuatku tertawa Re…”
Cheza tersenyum sangat lembut padaku. Senyumnya selalu mampu membuatku bersemangat kembali. Aku benar-benar tidak akan pernah bisa menyakitinya. Aku berjanji akan selalu melindunginya, meskipun pasti suatu saat nanti akan ada orang yang lebih mampu melindunginya daripada aku. Dia tampak begitu rapuh, tapi dia juga terlihat sangat kuat dan tegar. Apa perempuan memang seperti itu ya?
 “Ah! Reo, kau tidak bersiap-siap? Ini sudah hampir jam 5! Zee akan marah kalau kita terlambat!”
 “Ah! Kau benar! Tunggu aku sebentar!”
Aku berlari naik ke atas, bergegas kembali ke kamarku. Namun langkahku berhenti sejenak, aku tiba-tiba ingin mengeluarkan kata-kataku yang sangat tidak perlu untuk dikatakan.
 “Kau tidak perlu khawatir! Aku akan bisa tepat waktu!”
 “Ha... Ha... Aku percaya padamu kok Re! Sudah! Cepat sana!”
Cheza tersenyum dengan ceria, dia tampak sangat senang dan aku membalas senyumannya dengan senyumku yang kekanak-kanakan. Entah apa yang membuatku ingin berkata seperti itu padanya, tapi aku senang jika dia bisa selalu memberikan senyuman itu padaku.

* * *


 “Ah~ Zee! Kau sudah lama menunggu ya! Sorry telat!”
Aku berlari menuju Zee sambil menggenggam tangan Cheza, kami ngos-ngosan karena kelelahan. Aku melihat Cheza sangat kelelahan, aku jadi merasa bersalah karena menuruti keinginannya. Wajahnya sangat merah, tangannya juga berkeringat dan agak hangat, tapi entah kenapa aku merasa dia seperti itu bukan karena kelelahan.
 PLAKK!!!
 “AW! ZEE!!! Kenapa sih kau selalu memukul kepalaku?!”
 “Aku kan sudah bilang berkali-kali padamu JA-NGAN-PER-NAH membuat Cheza kelelahan! Bagaimana kalu sesuatu terjadi padanya?! Lagian kenapa belakangan ini kau selalu melamun begitu?!”
 “Iya! Aku tahu! Aku…”
 “Tidak Zee! Itu tadi salahku… Tadi aku mampir ke rumah Reo dulu dan membantu ibunya… Lalu karena aku keasyikan membantu, aku tidak sadar kalau kami sudah hampir terlambat. Akulah yang memaksanya mengajakku berlari karena aku takut kau marah kalau kami terlambat, padahal dia sudah melarangku…”
 “Sudah-sudah… kau tidak perlu bicara panjang lebar begitu. Aku percaya kok!”
Tampaknya aku harus berterimakasih pada Cheza, dia membantuku lagi kali ini. Meskipun, aku tahu Zee tidak akan benar-benar memaafkanku. Dia hanya tidak mau membuat Cheza cemas, dan dia pasti akan memukuliku habis-habisan setelah Cheza pulang. Tapi Cheza hebat karena mampu menaklukan Zee yang keras dan dingin! Ha… ha…
 “Lalu, apa kau akan memaafkan Re?”
 “Iya, aku memaafkannya asalkan kau tidak lagi nekat membuat dirimu sendiri kelelahan!”
 “Iya! Aku berjanji!”

Cheza bicara sambil tersenyum, Zee balas tersenyum padanya. Hmpf… Aku merasa tak bisa menahan tawaku! Wajah Zee yang sok pengertian begitu membuatku ingin mentertawainya di depan banyak orang!
 “Re? kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu?”
Cheza memperhatikan wajahku dengan ekspresi polos yang selalu ingin tahu itu. Aku terkejut dan mundur selangkah, aku rasa wajahku berubah merah.
 “Ah! Tidak… Umh… Aku… Aku hanya geli melihat cara Zee meyakinkanmu kalau dia akan memaafkanku! Ha… ha…”
 “Hi… Hi… Kau benar. Zee tidak pernah seperti itu biasanya.”
Cheza tertawa kecil, dia tampak sangat manis! Aku pun ikut tertawa, sambil sedikit mengendalikan tawaku. Kan tidak lucu kalau semua orang memusatkan perhatian padaku hanya karena aku tertawa terlalu lebar! Ha… Ha… Zee memasang wajah masam, ia tampak sangat kesal.
 “RE! Berhenti mengolokku!”
 “Aku kan tidak mengolokmu Zee… Lagian kau juga! Kenapa sih hanya percaya pada kata-kata Cheza? Cobalah belajar mendengarkan kata-kataku juga! Ha... Ha...”
 “RE! Apa kau ingin aku meREMUKkanmu?!”
 “Eits! Sudah-sudah! Kalian tidak boleh bertengkar! Ayo kita ke toko buku antik, lalu kita ke Starbucks, dan kemudian ke tempat perhentian terakhir!”
 “Ayo!”
Cheza tersenyum senang namun sedikit malu-malu, Zee tampak cool dan cuek seperti biasanya padahal aku tahu kalau sebenarnya dia juga senang dan agak malu. Aku berdiri di antara Zee dan Cheza, kemudian merangkul mereka dan kami berjalan bersama ke toko buku. Aku sangat bersemangat karena senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama mereka.



Chapter 1 ~ The Dream

Derap langkah kaki yang saling berkejaran terdengar, suara nafas yang pendek dan cepat yang dipenuhi dengan perasaan panik & kekawatiran mendalam dirasakannya. Dia terus berlari di tengah hutan yang sangat gelap yang hanya disinari secercah cahaya mentari, dia terus berlari menghindari kejaran pasukan penyihir bintang yang sudah tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. Dia terus berlari tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, namun fisiknya tak mampu lagi menahan kelelahan yang begitu menyiksanya. Nafasnya semakin cepat, dia sadar bahwa dia tidak kuat lagi untuk terus berlari, namun tekadnya membuatnya terus berlari. Dia tak bisa merasakan kakinya meyentuh tanah, yang ada di benaknya hanya bagaimana bisa lari secepat mungkin dan menjauh dari pasukan yang mengejarnya.
Jarak antara mereka belum cukup jauh dan kekuatannya yang sudah habis adalah alasan yang membuatnya terus berlari. Dia sudah tidak mempunyai sisa kekuatan sedikitpun untuk melawan sekumpulan Uncontrolled. Itu sebutan yang diberikan untuk para penyihir bintang yang sudah tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Ia mengerahkan semua sisa tenaga dan tekad yang ia miliki untuk menghindari para Uncontrolled dan bersembunyi untuk beberapa waktu.
BRAKKK!!!
Ia merasakan tubuhnya melayang, saat itu dia merasakan seluruh tenaga dan harapannya hilang. Dia melihat sekilas kebelakang, terlihat sebuah akar pohon yang sangat besar. Ia akhirnya tahu bahwa ia tersandung, tubuhnya jatuh terpelanting ke tanah, ia terguling dan tak mampu berdiri lagi. Saat itu ia tak lagi mati rasa, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kepanikan dan ketakutan yang mendalam semakin merasukinya, membuat ia gemetar dan tak mampu bergerak. Ia berusaha melawan rasa takutnya, pikirannya berusaha mengalahkan perasaan takutnya karena ia tak mau menjadi Uncontrolled. Ia berusaha berdiri, namun ia tak mampu. Ia berpikir untuk menyerah dan membiarkan dirinya ditangkap oleh para Uncontrolled tapi pikirannya berkata ia harus berdiri dan terus berlari untuk mencari tempat persembunyian.
 Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat menyilaukan muncul. Ia berusaha menutupi wajahnya dan menghindari cahaya itu, namun ia tak mampu bergerak. Cahaya itu sangat menyilaukan sehingga cahaya itu menariknya ke dalam cahaya. Ia menghilang dari tengah hutan, yang tersisa hanya suara langkah para Uncontrolled yang masih berusaha mencarinya, namun mereka tak akan bisa menemukannya di hutan itu.

 “Hei, Reo! REO! Jangan bengong terus begitu!”
Aku tersadar dari lamunan dan pikiranku tentang ‘mimpi yang belakangan ini selalu muncul ’ karena suara Cheza. Aku langsung melihatnya sedang berdiri di depanku sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mataku, Dia kelihatan tampak cemas melihatku. Ha,,, ha,,, mukanya selalu tampak lucu karena dia terlalu polos, tapi dia anak yang baik kok.
 “Ah! Maaf, ada yang sedang kupikirkan.”
Aku kembali memperbaiki posisi dudukku yang tadinya berpangku tangan di atas meja. Aku berusaha duduk tegak -walau punggungku terasa agak pegal karena terlalu lama bersandar di meja- sambil berbicara padanya. Dia mengambil kursi lalu duduk tepat di depanku.
 “Kau mikirin apa sih sampai berwajah bodoh seperti itu? Mata dengan tatapan kosong menatap entah ke mana, ada masalah apa sih?”
 “Bukan masalah besar.”
 “Tapi beberapa hari ini kau selalu seperti itu! Sebagai sahabatmu tentu saja aku cemas! Untung saja Zee…”
 “Aku kenapa? Emangnya Reo kenapa belakangan ini?”
Belum juga Cheza selesai bicara, tiba-tiba Zee muncul di belakang Cheza dan bertanya dengan pertanyaan seperti itu, aku sudah bisa menebak pasti Cheza kelabakan dan tidak tahu harus bicara apa. Cheza memang selalu begitu, dia tahu Zee akan marah kalau ada sesuatu yang aku rahasiakan. Kalau Cheza, dia tidak pernah memaksaku untuk mengatakan semua rahasiaku. Jadi, aku yang memutuskan untuk membantunya dengan berbicara pada Zee.
 “Tidak… Cheza takut kita bertengkar, karena pasti kau akan marah kalau tahu bahwa aku meminjam PR Cheza. Aku terlalu banyak membaca buku cerita klasik belakangan ini sampai-sampai aku lupa membuat PR dan lupa tidur… Ha… Ha…”
Aku tertawa walau sebenarnya tidak ingin, Cheza melihat ke arahku dengan tatapan mata yang seolah-olah berkata terima kasih. Namun Zee tiba-tiba langsung memukul kepalaku dengan buku yang ia bawa di tangannya.
“AW!!!”
Aku meringis sambil mengelus bagian belakang kepalaku, sakit banget rasanya!!! Padahal biasanya aku selalu siap menangkisnya. Tapi aneh rasanya, karena kali ini tidak tahu kenapa aku bahkan tidak merasakan gerakan bahwa dia akan memukulku.
 “Kayaknya kau benar-benar kurang tidur Re, aku percaya sekarang, karena kau bahkan tidak bisa mencegah aku memukulmu.”
 “Awas kau!”
Zee tersenyum mengejekku, aku kesal dan berusaha mengejarnya. Cheza berusaha memisahkan kami dari perkelahian. 
 “Sudah-sudah, ayo kita makan siang! Jam istirahat siang sudah hampir habis.”
Dari kecil dia memang satu-satunya orang yang selalu bisa melerai kami, dan cuma dia yang selalu bisa membuat aku dan Zee kompak. Bahkan waktu kami masih kecil, aku dan Zee bisa bertindak seperti orang bodoh kalau dia menangis. Entah kenapa kami sangat tidak mau Cheza menangis, aku selalu mengatainya jelek kalau dia menangis, meskipun akhirnya Zee marah padaku dan kami menghiburnya sampai ia tertawa lagi. Kalau kami bisa membuat Cheza tersenyum kami merasa sangat senang. Mungkin karena aku takut dia menangis makannya aku tidak mau membuatnya cemas tentang mimpiku. Kelihatannya aku memang harus terus menyembunyikan masalahku yang satu ini dari mereka. Aku hanya tidak mau mereka cemas karena memikirkan mimpiku yang begitu bodoh dan tidak jelas ini.