Monday, October 5, 2009

Chapter 3 ~ The Gate

Ternyata toko buku ini tidak seperti yang aku pikirkan dan bayangkan! Memang sih tokonya terlihat sangat antik dan kuno dengan banyak rak menjulang tinggi sehingga membentuk lorong-lorong yang panjang dan membingungkan, toko ini juga benar- benar terlihat berlumut dan lusuh, benar-benar terlihat seperti labirin, tapi terlalu banyak buku yang lusuh dan tak kumengerti disini. Ini benar-benar menurunkan semangatku! Aku terus menelusuri tumpukan-tumpukan buku yang lusuh dan unik di sepanjang rak, dan aku belum menemukan buku yang memiliki judul yang sama satu pun, semua punya judul berbeda! Memang toko buku ini benar-benar antik, unik dan aneh namanya pun benar-benar cocok! Aku salut sama penjaga toko yang ada di sini, dia benar-benar hebat karena mampu menghafal semua buku yang ada di sini.
 “Re! Zee! Coba kemari.”
Aku mendengar suara Cheza yang memanggilku dan Zee. Aku bergegas mendatangi Cheza. Sementara aku berjalan aku memperhatikan seluruh isi toko, aku terus memperhatikan sepanjang lorong-lorong yang dibatasi oleh rak buku yang tentu saja penuh dengan buku, dan tebak! Aku tak menemukan satu orang pun! Toko ini benar-benar sepi, pantas saja aku bisa mendengar suara Cheza yang begitu lembut dan pelan. Biasanya pasti Zee harus mendatangiku dulu baru aku sadar kalau ternyata Cheza sudah memanggilku berkali-kali!
 “Coba lihat ini”
Aku berusaha memperhatikan isi buku yang Cheza pegang, ia membalik halamannya satu per satu kemudian membaliknya lagi dari awal dengan cepat. Aku lihat Zee juga berusaha memperhatikan isi buku itu, tapi kelihatannya dia mengalami masalah yang sama denganku yaitu kesusahan untuk memperhatikan isi buku itu karena Cheza membaliknya terlalu cepat.
 “Apa kalian tidak merasa buku ini aneh?”
Kata Cheza sambil terus membalik-balik halaman buku itu, Zee mulai agak kesal dan mengambil buku itu dari Cheza.
 “Bagaimana aku bisa tahu bahwa buku itu aneh atau tidak kalau dari tadi kau hanya membalik-balik halamannya dengan cepat sebelum aku sempat memperhatikannya?”
Cheza terkejut dan melepaskan buku yang ia pegang membiarkan Zee mengamatinya, kemudian ia manaruh kedua tangannya di belakang dan melihat ke bawah sambil memainkan kakinya dengan ekspresi agak menyesal di wajahnya.
“Ah! Maaf… Tapi kupikir, aku tidak perlu membalik halamannya dengan lambat kalau tidak ada tulisannya kan?”
Aku terkejut mendengar kata-kata Cheza dan aku segera menghampiri Zee. Kulihat expresi Zee juga mulai agak bingung dan ia melakukan hal yang Cheza lakukan tadi, membalik halaman buku dengan cepat dan itu membuatku sebal. Jadi aku merebut buku itu dari Zee dan membalik-balik halamannya.
 “Hei!”
 “Sabar! Aku juga mau lihat! Bagaimana aku bisa lihat kalau kau mulai membalik halamannya dengan sangat cepat seperti Cheza?”
Cheza tertawa kecil, Zee tampak kesal dan kemudian ia seperti berusaha menutupi rasa penasarannya dengan kembali bersifat cool.
 “Sudahlah! Aku akan melihat-lihat di rak lain, siapa tahu ada buku yang lebih bagus.”
Zee pergi begitu saja meninggalkanku dan Cheza. Aku kembali memusatkan perhatianku ke buku itu.
 “Aneh kan?”
Suara Cheza tidak membuatku mengalihkan perhatianku, aku tetap menjawabnya sambil terus memperhatikan isi buku.

 “Iya sih. Buku ini aneh! Hanya 10 halaman yang terisi, seolah-olah memang belum ada lanjutan ceritanya.”
Aku membaca buku itu, isi ceritanya bisa dibilang hampir mirip dongeng. Buku itu menceritakan tentang Kingdom of STAR –Kerajaan Bintang-, tempat dimana para penduduk dengan berbagai pekerjaan aneh seperti magician, priest, blacksmith, warrior, dan lainnya tinggal, meskipun ada juga rakyat biasa yang tinggal di situ. Aku melihat ke arah Cheza, dia hanya memperhatikanku membaca buku itu meskipun sebenarnya ia penasaran, kemudian aku melanjutkan membaca. Kerajaan itu dipimpin oleh Raja Nao, menurut buku ini sih Nao itu raja yang sangat ramah dan bijaksana. Raja Nao memiliki seorang penasihat yang juga adalah sahabatnya sendiri, orang kepercayaannya yaitu Saga. Mereka selalu pergi berperang bersama, bermain bersama, makan bersama, bahkan berburu bersama. Pokoknya semua hal yang Raja Nao lakukan tidak pernah terlepas dari keberadaan Saga. Menurutku itu hal yang sangat aneh karena mereka terlihat seperti homo! He… he… sangat berbeda dengan aku dan Zee, yang hampir-hampir bahkan sering tidak mau bersama karena kita adalah saingan, sebenarnya aku tidak terlalu yakin soal aku menjadi saingannya.
Namun, suatu saat Kerajaan Bintang yang penuh cahaya dan kedamaian tiba-tiba diserang oleh Dark Kingdom of Chaos -Kerajaan Kegelapan-. Memang jumlah mereka tidak terlalu banyak tapi kegelapan yang mereka sebarkan mampu membuat para penyihir dan ksatria bintang yang tidak bercahaya dan lemah hatinya menjadi Uncontrolled.
 “Uncontrolled…”
Tunggu! Uncontrolled ? Aku seperti pernah mendengar kata itu sebelumnya, tapi di mana ya?
 “Re?”
 “Ah! Cheza! Kau mengagetkanku”
 “Maaf… Tapi tadi kau bergumam sendiri… Aku hanya ingin tahu ada apa.”
 “Ah! Benarkan aku bergumam? Tidak ada apa-apa kok… Hanya saja, aku merasa aku tahu tentang cerita ini.”
 “Kau pernah dengar cerita itu sebelumnya?”
 “Tidak… Namun aku masih belum yakin sepenuhnya kalau aku belum pernah mendengar cerita ini sebelumnya, mungkin sebaiknya aku teruskan membacanya.”
 “Baiklah…”
Cheza tersenyum dan kemudian dia melihat-lihat buku lain di sekitarnya. Aku meneruskan bacaanku meskipun aku tidak benar-benar membaca semuanya, lalu pandanganku terpaku pada halaman ke-9 dan 10.

Derap langkah kaki yang saling berkejaran terdengar, suara nafas yang pendek dan cepat yang dipenuhi dengan perasaan panik & kekawatiran mendalam dirasakannya. Dia terus berlari di tengah hutan yang sangat gelap yang hanya disinari secercah cahaya mentari, dia terus berlari menghindari kejaran pasukan penyihir bintang yang sudah tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. Dia terus berlari tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, namun fisiknya tak mampu lagi menahan kelelahan yang begitu menyiksanya. Nafasnya semakin cepat, dia sadar bahwa dia tidak kuat lagi untuk terus berlari, namun tekadnya membuatnya terus berlari. Dia tak bisa merasakan kakinya meyentuh tanah, yang ada di benaknya hanya bagaimana bisa lari secepat mungkin dan menjauh dari pasukan yang mengejarnya.
Jarak antara mereka belum cukup jauh dan kekuatannya yang sudah habis adalah alasan yang membuatnya terus berlari. Dia sudah tidak mempunyai sisa kekuatan sedikitpun untuk melawan sekumpulan Uncontrolled. Itu sebutan yang diberikan untuk para penyihir bintang yang sudah tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Ia mengerahkan semua sisa tenaga dan tekad yang ia miliki untuk menghindari para Uncontrolled dan bersembunyi untuk beberapa waktu.
BRAKKK!!!
Ia merasakan tubuhnya melayang, saat itu dia merasakan seluruh tenaga dan harapannya hilang. Dia melihat sekilas kebelakang, terlihat sebuah akar pohon yang sangat besar. Ia akhirnya tahu bahwa ia tersandung, tubuhnya jatuh terpelanting ke tanah, ia terguling dan tak mampu berdiri lagi. Saat itu ia tak lagi mati rasa, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kepanikan dan ketakutan yang mendalam semakin merasukinya, membuat ia gemetar dan tak mampu bergerak. Ia berusaha melawan rasa takutnya, pikirannya berusaha mengalahkan perasaan takutnya karena ia tak mau menjadi Uncontrolled. Ia berusaha berdiri, namun ia tak mampu. Ia berpikir untuk menyerah dan membiarkan dirinya ditangkap oleh para Uncontrolled tapi pikirannya berkata ia harus berdiri dan terus berlari untuk mencari tempat persembunyian.
Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat menyilaukan muncul. Ia berusaha menutupi wajahnya dan menghindari cahaya itu, namun ia tak mampu bergerak. Cahaya itu sangat menyilaukan sehingga cahaya itu menariknya ke dalam cahaya. Ia menghilang dari tengah hutan, yang tersisa hanya suara langkah para Uncontrolled yang masih berusaha mencarinya, namun mereka tak akan bisa menemukannya di hutan itu


Kalimat-kalimat itu membuatku terpaku, aku merasa tak mampu bergerak. Aku kembali merasakan ketakutan yang begitu mendalam menyelimutiku. Aku kembali teringat akan mimpi yang belakangan ini selalu menghantuiku. aku merasa tubuhku gemetar begitu kuatnya.  
"Re! Re! REO! kau tidak apa-apa?"
Cheza memegang lenganku dengan kuat, aku melihat wajahnya dan bayangan mimpi itu sirna. Aku masih gemetar sedikit dan Cheza tampak cemas karena hal itu, aku berusaha mengendalikan tubuhku dan menenangkan diriku.
"Reo, kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, hanya.... umh... sedikit terkejut."
"Tapi mukamu pucat, kau tampak sangat ketakutan, aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya..."
Aku menatap wajah Cheza, namun sambil menerawang jauh. Kemudian aku memutuskan untuk memberitahu mereka -Cheza dan Zee- tentang semuanya saat ini juga, namun bukan di tempat ini.
"Kita akan beli buku ini! Kemudian kita langsung kembali ke rumah pohon! Kurasa ini waktu untuk menceritakan semuanya!"
"Bagaimana dengan Zee? Kupikir kau..."
"Aku akan memberitahunya juga, kurasa kalian berdua harus tahu karena kalian telah datang bersamaku ke tempat ini!"

* * *

 “Re!!! Tunggu!!! Kenapa harus terburu-buru begitu?! Lagian kan rumah pohon kita tidak akan lari!!! HEI!!! Berhenti dulu sebentar!!! Cheza kelelahan tuh!”
Aku langsung menghentikan langkahku saat mendengar Zee, aku mengalihkan pandanganku pada Zee dan Cheza yang masih berlari mengejarku, Zee tampak sangat kesal dan Cheza tampak sangat pucat dan kelelahan. Aku merasa seperti benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri, aku diselimuti oleh rasa takut yang sangat mengerikan yang bahkan aku sendiri tak tahu apa yang membuatku seperti itu.
 “Ada apa denganmu Re? Kau tampak sangat shock dan ketakutan, kau aneh!”
 “Zee, sudah... Jangan bilang seperti itu, mungkin Reo sedang memikirkan sesuatu, jangan buat dia tambah bingung...”
 “Cheza, Zee benar, aku yang salah... Maafkan aku Zee... Aku sendiri tak tahu kenapa tapi aku sangat ketakutan, ini berhubungan dengan mimpiku yang membuatku selalu melamun sendiri. Ini memang sudah waktunya aku untuk memberitahukan semuanya pada kalian.”
 “Memberitahukan apa?! Kau benar-benar aneh!”
 “Zee... Dengarkan Reo dulu, jangan emosi begitu...”
Cheza berusaha menenangkan Zee, aku hanya merasa sangat aneh, aku merasa ini semua hanya mimpi tapi ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
 “Aku minta maaf karena sudah membuat kalian khawatir dan merahasiakan apa yang menjadi masalahku. Belakangan ini aku selalu bermimpi tentang seorang pangeran yang dikejar-kejar, dan di mimpi itu seolah-olah akulah pangeran itu. Aku merasakan ketakutannya, aku merasakan rasa sakitnya, pokoknya semua yang dia rasakan aku juga merasakannya dan apa yang dia pikirkan ada juga di dalam pikiranku meskipun aku selalu bertanya-tanya karena aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan dan kenapa ia bisa berpikir dan merasa seperti itu.”
 “Lalu? Apa hubungannya mimpimu itu dengan kita?”
 “Buku ini!”
Aku mengeluarkan buku aneh yang tadi kami lihat bersama, dan kami beli. Cheza tersentak kaget, dia menutup mulutnya seolah dia sudah bisa menangkap apa yang aku maksud. Zee hanya memiringkan kepalanya karena dia tidak mengerti.
 “Apa maksudmu?!”
 “Apa cerita di buku itu sama dengan yang kau alami di mimpimu?”
Cheza bertanya dengan suara pelan, dengan ekspresi yang penuh dengan ketakutan dan kengerian.
“Ya, meskipun tidak semuanya ada dalam mimpiku... Dan yang aku takutkan setelah melihat buku ini, kisah ini masih akan berlanjut, ini belum selesai karena halaman selanjutnya masih kosong...”
Zee, aku dan Cheza terdiam sesaat, seakan kami sudah bisa memahami isi pikiran masing-masing. Entah kenapa tapi ada bagian dalam diriku yang mendesakku dan memaksaku untuk melanjutkan kisah itu, mengisi sisa halaman yang masih kosong dalam buku itu bersama Zee dan Cheza, tapi sisi lain dari diriku tidak mau mereka berdua terlibat lebih jauh lagi.
 “Tapi kenapa harus kau?”
 “Entahlah Zee, aku tak mengerti... AAAARGH!!! Kepalaku sakit!”
 “Tunggu, kenapa kita tidak bertanya pada penjaga toko?”
Aku dan Zee saling bertukar pandang, ucapan Cheza seolah membuka jalan baru dalam kepalaku, seperti ada secercah cahaya yang muncul untuk menunjukkan jalan yang harus aku tempuh selanjutnya, aku sama sekali tidak terpikir akan hal itu tadi. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arah yang berlawanan, berharap menemukan apa yang harus aku lakukan untuk dapat menyelesaikan ini semua tanpa melibatkan Zee dan Cheza.
 “Kalau begitu ayo cepat kita kembali ke toko itu!!”
 “RE! Tunggu!”

* * *

 Tok! Tok! Tok!
 “Permisi...”
Kami kembali ke toko buku itu, tapi karena di pintunya tertulus “TUTUP” kami sepakat Chezalah yang memberi salam agar tidak terkesan aneh dan ugal-ugalan.
 “Ah! Cheza, kalau dengan suara begitu tidak akan terdengar!”
 “Tapi Re, kalau terlalu keras kan kesannya tidak sopan...”
 “PERMISI!!!”
 “Re!! Pelankan suaramu!!!”
Cheza panik, dan berusaha membuatku memelankan volume suaraku, tapi aku tidak peduli. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan orang yang mampu menjelaskan ini semua.
 “Aneh,,, kenapa nggak ada orang ya?” Kata Cheza
 “Ayo coba kita cari ke dalam lagian pintunya tidak terkunci.”
Zee dengan senyum coolnya mendorong pintu dengan sangat mudahnya, seolah pintu itu sangat ringan, aku pikir tadinya pintu itu dikunci, tapi ternyata tidak dan itu sangat aneh. Cheza menarik lenganku agak takut untuk masuk, karena dia merasa sungkan, aku menatapnya dan tersenyum menandakan kalau tidak akan terjadi apa-apa.
 “Permisi... Apa ada orang di sini?”
 “Sudahlah Cheza, itu tidak berguna, kau mau memanggil berapa kali pun gak bakal ada yang jawab... Lebih baik kita berpencar saja!”
Zee dan Cheza menanggapi ucapanku dan mengangguk dan kami berpencar ke lorong yang berbeda, aku melewati kasir tempat kami membayar tadi, namun tetap saja tidak ada orang. Aku berjalan perlahan agar tidak ada satupun yang terlewatkan dari toko buku ini, entah kenapa tapi rasanya lumayan mengerikan juga datang ke toko buku ini dan berjalan sendirian di dalamnya tanpa ada orang lain di sekitar.
 “KYAAAAAA!!!”
 Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Cheza, sesegera mungkin aku berlari ke arah sumber teriakan tadi. Aku sangat berharap dia hanya melihat kecoak atau penjaga toko, tapi perasaanku kali ini benar-benar tidak enak.
 “CHEZA!!!”
Aku berhenti dan memperhatikan sekeliling untuk mencari jalan, jalan dalam toko buku ini benar-benar membingungkan.
 KRIEEET
Aku mendengar suara lantai kayu yang sudah reot terinjak, aku memasang sikap siaga dan siap berkelahi, asalnya dari balik rak buku yang ada tepat di depanku. Aku berlari kesana dan...
 “RE! Tunggu! Ini aku!!!”
 “Zee, kupikir kau siapa...”
 “Apa kau sudah menemukan Cheza?”
 “Belum...”
 “Ayo kita cari bersama.”
 “Kau takut ya?”
“Bukan saatnya berkata seperti itu Re! Aku harap dia tak apa-apa...”
“Ha... ha... Maaf... Aku juga berharap dia hanya melihat kecoak.”
Aku dan Zee bersama -masih dengan sikap siaga- berlari menelusuri seluruh toko buku untuk mencari Cheza. Tapi kami tak dapat menemukannya
 “CHEZA!!! Cih, SIAL! Kenapa tidak ada jawaban?!!”
 “Reo, tenang! Kenapa kita tidak mencari di jalur yang dilalui Cheza saja? Ini cukup melelahkan dan agak merepotkan kalau kita harus mencarinya ke seluruh bagian dari toko ini.”
 “Kau benar, maaf...”
 “Sudahlah! Ayo cepat!”
Kami menelusuri jejak Cheza, dari awal dia masuk bersama-sama dengan kami dan terus mengikuti jalur yang seharusnya dia lewati saat kami berpencar tadi. Di ujung jalan, kami melihat cahaya -sangat mirip seperti cahaya yang ada dalam mimpiku- sangat menyilaukan sehingga membuatku dan Zee berusaha melindungi mata kami. Cahaya itu berasal dari dalam pintu gerbang emas yang terbuka lebar.
 “Re, cahaya apa itu...”
 “Entahlah Zee, tapi... Cahaya itu juga muncul dalam mimpiku, cahaya itu yang membuat Pangeran menghilang tiba-tiba.”
Kami terdiam sejenak, dan kemudian saling bertatapan. Aku mengangguk padanya dan dia membalas anggukanku, setelah itu kami masuk bersamaan ke dalam pintu gerbang itu. Saat itu juga, setelah kami memasuki gerbang itu cahaya menyusut dan pintu gerbang emas itu tertutup dan berubah kembali menjadi dinding kayu yang rapuh dan berlumut, yang tersisa di dalam toko itu hanyalah kegelapan dan keheningan.



No comments:

Post a Comment