Derap langkah kaki yang saling berkejaran terdengar, suara nafas yang pendek dan cepat yang dipenuhi dengan perasaan panik & kekawatiran mendalam dirasakannya. Dia terus berlari di tengah hutan yang sangat gelap yang hanya disinari secercah cahaya mentari, dia terus berlari menghindari kejaran pasukan penyihir bintang yang sudah tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. Dia terus berlari tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, namun fisiknya tak mampu lagi menahan kelelahan yang begitu menyiksanya. Nafasnya semakin cepat, dia sadar bahwa dia tidak kuat lagi untuk terus berlari, namun tekadnya membuatnya terus berlari. Dia tak bisa merasakan kakinya meyentuh tanah, yang ada di benaknya hanya bagaimana bisa lari secepat mungkin dan menjauh dari pasukan yang mengejarnya.
Jarak antara mereka belum cukup jauh dan kekuatannya yang sudah habis adalah alasan yang membuatnya terus berlari. Dia sudah tidak mempunyai sisa kekuatan sedikitpun untuk melawan sekumpulan Uncontrolled. Itu sebutan yang diberikan untuk para penyihir bintang yang sudah tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Ia mengerahkan semua sisa tenaga dan tekad yang ia miliki untuk menghindari para Uncontrolled dan bersembunyi untuk beberapa waktu.
BRAKKK!!!
Ia merasakan tubuhnya melayang, saat itu dia merasakan seluruh tenaga dan harapannya hilang. Dia melihat sekilas kebelakang, terlihat sebuah akar pohon yang sangat besar. Ia akhirnya tahu bahwa ia tersandung, tubuhnya jatuh terpelanting ke tanah, ia terguling dan tak mampu berdiri lagi. Saat itu ia tak lagi mati rasa, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kepanikan dan ketakutan yang mendalam semakin merasukinya, membuat ia gemetar dan tak mampu bergerak. Ia berusaha melawan rasa takutnya, pikirannya berusaha mengalahkan perasaan takutnya karena ia tak mau menjadi Uncontrolled. Ia berusaha berdiri, namun ia tak mampu. Ia berpikir untuk menyerah dan membiarkan dirinya ditangkap oleh para Uncontrolled tapi pikirannya berkata ia harus berdiri dan terus berlari untuk mencari tempat persembunyian.
Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat menyilaukan muncul. Ia berusaha menutupi wajahnya dan menghindari cahaya itu, namun ia tak mampu bergerak. Cahaya itu sangat menyilaukan sehingga cahaya itu menariknya ke dalam cahaya. Ia menghilang dari tengah hutan, yang tersisa hanya suara langkah para Uncontrolled yang masih berusaha mencarinya, namun mereka tak akan bisa menemukannya di hutan itu.
“Hei, Reo! REO! Jangan bengong terus begitu!”
Aku tersadar dari lamunan dan pikiranku tentang ‘mimpi yang belakangan ini selalu muncul ’ karena suara Cheza. Aku langsung melihatnya sedang berdiri di depanku sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mataku, Dia kelihatan tampak cemas melihatku. Ha,,, ha,,, mukanya selalu tampak lucu karena dia terlalu polos, tapi dia anak yang baik kok.
“Ah! Maaf, ada yang sedang kupikirkan.”
Aku kembali memperbaiki posisi dudukku yang tadinya berpangku tangan di atas meja. Aku berusaha duduk tegak -walau punggungku terasa agak pegal karena terlalu lama bersandar di meja- sambil berbicara padanya. Dia mengambil kursi lalu duduk tepat di depanku.
“Kau mikirin apa sih sampai berwajah bodoh seperti itu? Mata dengan tatapan kosong menatap entah ke mana, ada masalah apa sih?”
“Bukan masalah besar.”
“Tapi beberapa hari ini kau selalu seperti itu! Sebagai sahabatmu tentu saja aku cemas! Untung saja Zee…”
“Aku kenapa? Emangnya Reo kenapa belakangan ini?”
Belum juga Cheza selesai bicara, tiba-tiba Zee muncul di belakang Cheza dan bertanya dengan pertanyaan seperti itu, aku sudah bisa menebak pasti Cheza kelabakan dan tidak tahu harus bicara apa. Cheza memang selalu begitu, dia tahu Zee akan marah kalau ada sesuatu yang aku rahasiakan. Kalau Cheza, dia tidak pernah memaksaku untuk mengatakan semua rahasiaku. Jadi, aku yang memutuskan untuk membantunya dengan berbicara pada Zee.
“Tidak… Cheza takut kita bertengkar, karena pasti kau akan marah kalau tahu bahwa aku meminjam PR Cheza. Aku terlalu banyak membaca buku cerita klasik belakangan ini sampai-sampai aku lupa membuat PR dan lupa tidur… Ha… Ha…”
Aku tertawa walau sebenarnya tidak ingin, Cheza melihat ke arahku dengan tatapan mata yang seolah-olah berkata terima kasih. Namun Zee tiba-tiba langsung memukul kepalaku dengan buku yang ia bawa di tangannya.
“AW!!!”
Aku meringis sambil mengelus bagian belakang kepalaku, sakit banget rasanya!!! Padahal biasanya aku selalu siap menangkisnya. Tapi aneh rasanya, karena kali ini tidak tahu kenapa aku bahkan tidak merasakan gerakan bahwa dia akan memukulku.
“Kayaknya kau benar-benar kurang tidur Re, aku percaya sekarang, karena kau bahkan tidak bisa mencegah aku memukulmu.”
“Awas kau!”
Zee tersenyum mengejekku, aku kesal dan berusaha mengejarnya. Cheza berusaha memisahkan kami dari perkelahian.
“Sudah-sudah, ayo kita makan siang! Jam istirahat siang sudah hampir habis.”
Dari kecil dia memang satu-satunya orang yang selalu bisa melerai kami, dan cuma dia yang selalu bisa membuat aku dan Zee kompak. Bahkan waktu kami masih kecil, aku dan Zee bisa bertindak seperti orang bodoh kalau dia menangis. Entah kenapa kami sangat tidak mau Cheza menangis, aku selalu mengatainya jelek kalau dia menangis, meskipun akhirnya Zee marah padaku dan kami menghiburnya sampai ia tertawa lagi. Kalau kami bisa membuat Cheza tersenyum kami merasa sangat senang. Mungkin karena aku takut dia menangis makannya aku tidak mau membuatnya cemas tentang mimpiku. Kelihatannya aku memang harus terus menyembunyikan masalahku yang satu ini dari mereka. Aku hanya tidak mau mereka cemas karena memikirkan mimpiku yang begitu bodoh dan tidak jelas ini.
Monday, March 2, 2009
Chapter 1 ~ The Dream
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment